Tadinya, gue yang mau nyediain bahu buat dia menumpahkan kisahnya. Entah mengapa malam ini tepat seminggu awal bertemu justru gue yang bersandar di bahunya dan digenggam tangannya. Matanya fokus ke film Alita, dan mataku fokus dengan jemarinya. Jadi jangan suruh gue review film alita, takutnya salah sebut jadi film romantis.
Di koridor theater, gue berdiri tidak kebagian kursi dan tidak kebagian perhatian. Baru kali ini rasanya diacuhkan dengan bahagianya. Tangannya sibuk menghapus foto-foto mantannya di arsip instagramnya.
Pernah melihat senyumku semanis itu?
Jangan suka cemberut kalau ada hal yang tidak sesuai harapan, mungkin itu kesempatan dari Tuhan untuk sebuah jalan. Andai saja malam itu bukan malam minggu dan parkiran mall penuh sehingga mobil diparkir di seberang jalan, dan andai saja cuaca biasa-biasa saja maka gue gak akan pernah rasain lari di tengah hujan dengan tangan digenggam erat. Menuruni tangga dengan irama kakinya disesuaikan dengan irama kakiku yang sepersekian detik lebih lambat dari dia. Meski kaki menapak mantap ingin ku terpeleset saja malam itu agar mimpi di gendong semakin menambah aroma gurih malam ini. Namun kuatnya genggamanmu mengalahkan script sutradara tertolol tadi. Berlari dalam hujan digenggam kamu sangat lebih dari cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar