Minggu, 10 Februari 2019

How to steal you.

Tadinya, gue yang mau nyediain bahu buat dia menumpahkan kisahnya. Entah mengapa malam ini tepat seminggu awal bertemu justru gue yang bersandar di bahunya dan digenggam tangannya. Matanya fokus ke film Alita, dan mataku fokus dengan jemarinya. Jadi jangan suruh gue review film alita, takutnya salah sebut jadi film romantis.

Di koridor theater, gue berdiri tidak kebagian kursi dan tidak kebagian perhatian. Baru kali ini rasanya diacuhkan dengan bahagianya. Tangannya sibuk menghapus foto-foto mantannya di arsip instagramnya.
Pernah melihat senyumku semanis itu?

Jangan suka cemberut kalau ada hal yang tidak sesuai harapan, mungkin itu kesempatan dari Tuhan untuk sebuah jalan. Andai saja malam itu bukan malam minggu dan parkiran mall penuh sehingga mobil diparkir di seberang jalan, dan andai saja cuaca biasa-biasa saja maka gue gak akan pernah rasain lari di tengah hujan dengan tangan digenggam erat. Menuruni tangga dengan irama kakinya disesuaikan dengan irama kakiku yang sepersekian detik lebih lambat dari dia. Meski kaki menapak mantap ingin ku terpeleset saja malam itu agar mimpi di gendong semakin menambah aroma gurih malam ini. Namun kuatnya genggamanmu mengalahkan script sutradara tertolol tadi. Berlari dalam hujan digenggam kamu sangat lebih dari cukup.

Sabtu, 12 Januari 2019

What bussiness i should run?

Coming soon

Pengalaman kuliah di jurusan Arsitektur. Pernah berpikir : Kayaknya aku salah jurusan deh

Apakah kamu dalam fase bertanya pada diri sendiri : Aku kayaknya salah memilih jurusan arsitektur. Aku arsitektur tapi tidak bisa sketsa. Gambar sketsaku jelek dan berantakan. Garisku miring. Kok struktur dan konstruksi itu membingungkan? Bangunanku terlalu kaku. Aku tidak bisa berimajinasi. Aku terlalu rasional. Aku bukan seniman!!
Jika salah satu atau semua hal di atas benar, sini aku bisikin : aku juga pernah.

Jumat, 11 Januari 2019

Biarkan semesta bekerja

Bangun pagi di beberapa hari ini  belakangan ada perasaan kosong. Dua hari merenung  coba mengurai apa yang terjadi sehingga alam bawah sadar tersetting : unmood.
Setelah melihat foto 7 tahun lalu saya tersadar. Saya telah menyelesaikan target hidup yang  telah saya buat 8 tahun lalu. Target yang membuat saya  tetap berarti, dihargai dan menghargai hidup. Belajar formal.

Sekarang sekolah formal telah berakhir. Tapi sekolah kehidupan baru akan dimulai. Dulu hanya dituntut selesaikan sekolah tepat waktu. Sekarang, Lebih menakutkan membayangkan wajah-wajah orang yang penuh tuntutan karir, budi dan akhlak. Penilaian manusia  tidak semua hal harus dipedulikan, cukup beberapa rasional untuk dicapai. There are so many toxic people out there. Keep your mental stabil!! Sumber ketidaksehatan mental manusia adalah kegagalan menafsirkan keinginan orang lain

Agar tetap merasa terisi dan berarti saya harus tahu dan buat target saya sekarang. Tapi cara pertama menentukan target adalah : Tawakkal. Berserah diri. Semoga gerak langkahku diarahkan menuju sebuah oencapaian baru.
Ada target kamu yang membuat dan kamu yang melaksanakan. Ada pula hal yang mutlak milik Allah, Dia yang membuat dan biarlah saya jadi algojo bagi diri saya sendiri.

Halo semesta!

Selamat datang Aku, lama tak berbagi kisah.
Tarik nafas dulu, kamu sedang lelah-lelahnya kan? Baru saja bergelut dengan pendidikanmu. Tenangkan diri, kamu berhak berleha-leha sejenak.
Untuk tamu aku yang sedang membaca, terimakasih telah memberikan aku waktu berhargamu. Hari ini ibarat secangkir teh saja yang aku sajikan. Belum ada biskuit renyah. Ibarat seorang pelancong yang baru tiba di rumah. Biarkan aku menarik nafas sejenak sebelum memulai kisahku. Berpalinglah sejenak, tunggu.

How to steal you.

Tadinya, gue yang mau nyediain bahu buat dia menumpahkan kisahnya. Entah mengapa malam ini tepat seminggu awal bertemu justru gue yang bersa...